Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Bokep Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Aku masih mematung. Lalu pijitan turun ke bawah. Aku menurut saja. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Hawin.., aku mau makan dulu. Agar kejadian kemarin terulang.Jam berapa aku berangkat. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Yes.., akhirnya. Aku berhasil. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aku langsung beres-beres dan pulang.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Nampak ada perubahan besar pada Hawin. Ia memulai pijitan. Si Junior melemah. “Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang.




















