Apalagi Sita mengingatkanku tentang ancaman ibu mertua tentang kehadiran seorang cucu. Bokep “Yang mana?” aku bertanya, entah kenapa, ikutan berbisik. “Kenapa?” suaraku gemas. ”Buka, Ma!” bisiknya. “Yang bercanda itu!” sahutnya sambil nyengir. Satu detik… dua… tiga… empat… bahkan hingga 1 menit berlalu, aku tidak mendengar apa-apa.Ugh!“Maaf, sayang. Keduanya tampak begitu menikmati percumbuan itu seolah-olah di dalam kamar hanya ada mereka berdua, tanpa memperdulikan kehadiranku disana. “Ya gitu deh.” aku berterus terang. “Bosnya itu?” sahut Sita. Hah… hah…” bocah itu langsung terengah-engah saat aku melepaskan bibirnya. “Sebentar lagi aja, mas.” aku merajuk dan mencaplok penis itu.Tapi mas Danu menarik cepat penisnya, “Aku sudah terlambat, sayang.” dan buru-buru memasukkannya kembali ke dalam celananya.“Mas berangkat dulu ya.” Dia mengecup pelan keningku dan segera berlalu ke taxi langganan yang sudah menunggu di depan rumah.Huh!










