Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Bokep Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Kaki disandarkan di dinding. Ke mana ia? Keberuntungankah? Suara itu lagi. Aku masih mematung. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Creambath? Kini pindah ke paha sebelah kanan. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Angin menerobos dari jendela. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Sial. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu.




















