Kuturuti arahannya dan aku telentang, sementara Amei tergolek di sampingku. Bokep Disini letak uniknya, sepertinya pelayan yang mengantar makanan aku orangnya berganti-ganti. Dia rupanya sudah mengenaliku. Suasananya teduh dan khas kampung-kampung Jawa, tenang ada suara-suara burung perkutut dan gending yang mungkin dikumandangkan dari radio atau rekaman secara samar-samar.Aku berdebar-debar juga mendatangi tempat tersebut. Makin lama dia makin semangat. Ada yang mengenakan jarit, tetapi ada juga yang mengenakan pakaian seperti layaknya ibu-ibu pergi ke pasar. “Lho kok gak kerja mas,” katanya.Aku berasalan mbolos. Sayangnya mereka hanya bisa di “tenteng” antara jam 10 sampai jam 5 sore. Sambil makan aku ditemani oleh perempuan yang tadi pertama menyambut aku. Pemandangan yang sangat indah, toket gede dan badan yang sekel. Seorang perempuan paruh baya mengenakan kain panjang atau jarit menghampiri aku dan langsung duduk di kursi dekat aku.“ Mau pesen apa mas?” tanyanya. Kata si mbak mereka belum tentu bisa tiap




















