Nafsuku sudah sampai ke ujung. Paul Anka? Bokep “Maaf, aku hanya menggoda.”
“Jangan lagi.”
“Tentu tidak,” sahutnya. “Sori,” bisikku sekali lagi. Aku tak tahan lagi. Dengan alis berkerut kugelengkan kepalaku. Matanya menatapku. Genggamannya di batang kemaluanku terlepas. Kita impas?” Aku menoleh dan melihat ia masih dengan senyumnya menatapku. “Hey !” seruku. Ia memiliki sesuatu yang membuatku tak jenuh kala memandangnya. Tapi aku akan kembali.”
“Aku akan kembali,” bisiknya mengulang. Ia balas menatapku. Jalanan tampak lengang. Aku merasa malu sendiri. “Hey, geli. Tapi jangan memperlakukanku seperti orang bodoh. Wajahku memanas lagi. Ia tertawa. Benar rupanya, kau tak bisa berdansa.”
Aku mendengus malu. Ia lalu meraih leherku, melingkarkan kedua betisnya di pinggangku. Seperti apa yang kau mau.”
“Hmm. Asal jangan tiga kali menginjak kakiku.”
“Mungkin lebih.”
“Ayolah. “Maaf,” kataku, “aku tak bermaksud…”
“Kamu masih perjaka,” bisiknya memotong sambil tersenyum.




















