Sedikit gusar aku melangkah mendekatinya, lalu menarik sebelah pahanya. Bokep Tidak sekarang, maka takkan lagi. Aku tak punya alamat, tak punya nomor telepon yang bisa kuhubungi untuk mencapainya. “Maaf,” kataku, “aku tak bermaksud…”
“Kamu masih perjaka,” bisiknya memotong sambil tersenyum. “Nice,” ia berbisik di pipiku. Bibirnya mengeluarkan suara erangan. Alunan instrumen membuatku terlena beberapa saat kemudian.“Kamu terangsang,” ia berbisik tiba-tiba. Namun bukannya langsung pulang, di jalan ia memintaku untuk berhenti di Dunkin’s. Ia terkekeh. Akhirnya, dengan rasa nyeri di ujung, batang kemaluanku melesak. Ia menuntun tanganku hingga melingkar di pinggangnya, lalu kedua lengannya sendiri memeluk leherku. Kurasakan kehangatan kulitnya dan kelembutan tubuhnya membuatku nyaman. “Shall we dance?” katanya, membuat tawaku berhenti. “Mau minum apa?”
“Air putih,” ia berseru dari ruang tamu. Kedua buah dadanya terlihat menyembul dari balik bra krem yang ia kenakan. Indra Lesmana? “Hey !” seruku. Dan ianya begitu luar biasa, begitu menantang kelaki-lakianku, membuat darahku mengalir




















